Menurut saya digital travelling sangat membantu masyarakat sebagai akomodasi untuk bepergian dan berlibur.
Masyarakat sangat senang untuk terlihat eksis di media sosial selain untuk memamerkan foto yang di unggah ke media sosial juga untuk memperkenalkan daerah wisata tersebut. Selain eksis di media sosial, satu lagi trend yang tak terpisahkan di era milenial, yaitu traveling. Terlebih dengan banyaknya destinasi wisata menarik di Indonesia, banyak yang ‘kecanduan’ mengeksplor sisi lain alam nusantara. Mengabadikan keindahan alam ke dalam foto-foto di media sosial, sudah pasti. Lihat saja feed Instagram para influencer populer Indonesia, seperti Ayla Dimitri, Patricia Devina, Keenan Pearce, Ernanda Putra, dan lain sebagainya, latar yang seringkali ditampilkan adalah mother nature. Mengindikasikan traveling sudah jadi gaya hidup masa kini.
Para millennial tra velers ini mempunyai kesenangan untuk berpetualang atau travelling, namun mereka lebih suka menggunakan jasa-jasa perjalanan wisata yang berbasis aplikasi, bukan lagi konvensional.
Mereka cenderung spontan, tak terlalu banyak waktu
untuk perencanaan, dan percaya pada ulasan-ulasan destinasi wisata di internet
terutama pada media sosial. Maka, tak heran kalau travel blogger menjadi
kiblatnya. Perilaku ini berkembang menjadi tren dan kian menular. Yang tak
kalah menarik, rata-rata para wisatawan milenial mengaku bahwa pilihan pelesir
mereka adalah untuk mencari pengalaman wisata unik, baru, otentik, dan
personal. Salah satu alasannya adalah untuk membuat mereka berbeda dari
rekan-rekannya.
Fakta menarik lainnya, wisatawan usia 15-29 tahun
menyumbang sekitar 23 persen dari wisatawan global pada 2016. Memang, generasi
milenial mungkin belum seluruhnya kuat secara finansial, tetapi mereka memiliki
banyak waktu untuk melakukan perjalanan. Wisatawan di generasi ini relatif
pemberani dan tidak menyerah pada masalah ekonomi, kerusuhan politik, dan
lainnya. Jika ada peluang, mereka akan melakukan perjalanan, mendapatkan
pengalaman, dan menyumbangkan tenaga.
Hal itu mengejutkan karena terlihat bahwa generasi
milenial masih kurang menganggap penting manfaat perencanaan keuangan bagi masa
depan mereka. Namun, itu juga membuktikan bahwa generasi milenial lebih reaktif
dalam menggunakan uang. Sehingga, secara ekonomi pariwisata, milenial akan
menjadi pasar yang sangat empuk jika produk-produk pariwisata yang ditawarkan
sesuai dengan selera mereka.
Jika
destinasi-destinasi domestik tak sanggup menyesuaikan diri dengan selera
meraka, maka anggaran konsumsi pariwisata kaum milenial akan parkir ke negara
tetangga, seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand.
Kemunculan
situs-situs penyedia informasi hotel dan tempat wisata, sekaligus fitur untuk
pemesanannya, membuat peta bisnis perjalanan wisata pelan-pelan berubah. Oleh
karena itu, model bisis travel saat ini mempunyai karakteristik khusus yang
positif antar lain berbasis transaksi informasi, dimana informasi bisa
dipertukarkan antaa penyedia jasa (produsen) dengan pembeli (konsumen),
informasi bersifat langsung (direct to market),informasi yang disampaikan oleh
produsen langsung ke sasaran pasar (produsen) tanpa perantara, lintas batas
negara (delocation), siapapun dan dari negara manapun juga dapat memanfaatkan
bisnis ini. Karakteristik lainnya adalah bersifat fast forwardatau cepat baik
dalam memperoleh informasi maupun proses transaksi.
Perkembangan dan pemanfaatan Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) mempermudah masyarakat untuk mendapatkan layanan perjalan mulai dari pemesanan tiket hingga penginapan yang dilakukan melalui penggunaan travel online.Biro-biro perjalanan yang dulu menggunakan jasa konvensional secara perlahan mulia menghilang. Kini masyarakat sudah jarang membeli tiket pesawat maupun kereta di gerai-gerai pembelian tiket, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan smartphoneyang terkoneksi dengan internet dan memesannya melalui fitur-fitur telah disediakannya yang dipesan melalui beberpa jasa penjualan tiket onlineseperti Traveloka, Trivago, Pegi-pegi, Tiket.com, dan lain-lain karena lebih praktis, efisien dan efektif.
Aplikasi online shopping tumbuh subur, baik dalam
bentuk market place seperti Tokopedia, Bukalapak, Elevenia maupun online retail
shopping seperti Lazada dan Zalora. Untuk memuaskan adiksi petualangan dan
pariwisata, aplikasi pemesanan tiket dan hotel juga tak kalah booming.
Perilaku ini berkembang menjadi tren dan kian menular. Yang tak kalah menarik, rata-rata para wisatawan milenial mengaku bahwa pilihan pelesir mereka adalah untuk mencari pengalaman wisata unik, baru, otentik, dan personal. Salah satu alasannya adalah untuk membuat mereka berbeda dari rekan-rekannya.
Oleh karena itu,
milenial adalah konsumen wisata yang sangat potensial. Selain jumlahnya yang
terus membesar, perilaku wisatanya pun sangat suportif terhadap pertumbuhan
dunia pariwisata.